Risiko penggunaan AI di pendidikan kini menjadi topik yang tak terhindarkan, seiring semakin masifnya kecerdasan buatan masuk ke ruang kelas, platform pembelajaran, dan sistem penilaian.
Di balik janji efisiensi dan personalisasi belajar, teknologi ini menyimpan persoalan serius yang menuntut perhatian pendidik, pembuat kebijakan, dan orang tua.
AI di Pendidikan
Dalam beberapa tahun terakhir, kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) menjadi bagian dari ekosistem pendidikan global.
Platform seperti Learning Management System (LMS), aplikasi bimbingan belajar digital, hingga model bahasa besar seperti ChatGPT mulai digunakan untuk membantu siswa memahami materi, menulis esai, bahkan mengerjakan soal.
Lembaga pendidikan, baik sekolah maupun perguruan tinggi, menyambut AI sebagai solusi atas keterbatasan sumber daya.
AI dianggap mampu mempercepat administrasi, memberi umpan balik instan, dan menyesuaikan materi dengan kebutuhan individu siswa.
Namun, adopsi yang terlalu cepat sering kali tidak diiringi dengan refleksi mendalam mengenai risikonya.
Di sinilah masalah mulai muncul. Pendidikan bukan sekadar soal hasil akhir, tetapi proses pembentukan nalar, etika, dan karakter. Ketika AI mengambil alih terlalu banyak peran, nilai-nilai ini berpotensi tergerus.
Integritas Akademik di Persimpangan Jalan
Salah satu risiko paling nyata dari penggunaan AI di pendidikan adalah runtuhnya integritas akademik. Model AI generatif mampu menghasilkan teks yang rapi, logis, dan sulit dibedakan dari tulisan manusia. Bagi siswa, godaan untuk menggunakan AI sebagai “jalan pintas” menjadi sangat besar.
Masalahnya bukan semata soal menyontek. Ketika tugas diselesaikan oleh mesin, siswa kehilangan kesempatan untuk melatih kemampuan berpikir kritis, menyusun argumen, dan merefleksikan pengetahuan. Tugas yang seharusnya menjadi sarana belajar berubah menjadi formalitas administratif.
Sejumlah institusi mencoba mengandalkan alat pendeteksi AI, tetapi pendekatan ini terbukti tidak selalu akurat. Banyak tulisan manusia yang ditandai sebagai buatan AI, dan sebaliknya. Ketergantungan pada teknologi untuk “mengawasi” justru menimbulkan konflik baru antara siswa dan institusi.
Pendekatan yang lebih berkelanjutan adalah mendesain ulang sistem penilaian. Ujian lisan, proyek berbasis praktik, portofolio, dan refleksi personal menjadi alternatif yang lebih sulit dimanipulasi oleh AI.
Baca Juga:
Etika Penggunaan Ai Di Lingkungan Sekolah
Bias Algoritmik dan Ancaman Ketidakadilan
AI tidak lahir di ruang hampa. Ia dilatih menggunakan data historis yang merefleksikan pola, kebiasaan, dan bias manusia. Dalam konteks pendidikan, hal ini menimbulkan risiko diskriminasi yang sering kali tidak disadari.
Sistem penilaian otomatis, rekomendasi jalur belajar, atau analitik performa siswa dapat memperkuat ketimpangan. Siswa dari latar belakang sosial ekonomi tertentu berpotensi diberi label “berisiko rendah” atau “berpotensi tinggi” berdasarkan pola data masa lalu, bukan kapasitas aktual mereka.
Organisasi internasional seperti UNESCO dan OECD telah mengingatkan bahwa penggunaan AI tanpa audit bias dapat memperlebar kesenjangan pendidikan. Ketika keputusan penting diserahkan pada algoritma yang tidak transparan, keadilan menjadi taruhan.
Oleh karena itu, keterlibatan manusia tetap krusial. Guru dan pengelola pendidikan harus memiliki hak untuk meninjau, mengoreksi, bahkan menolak rekomendasi sistem AI.
Privasi Data
Setiap interaksi siswa dengan platform digital meninggalkan jejak data. AI memanfaatkan data ini untuk menganalisis perilaku belajar, tingkat fokus, hingga emosi. Di satu sisi, data ini membantu personalisasi pembelajaran. Di sisi lain, risiko pelanggaran privasi meningkat drastis.
Data pendidikan sering kali mencakup informasi sensitif, mulai dari identitas pribadi hingga catatan performa akademik. Jika tidak dikelola dengan baik, data ini dapat bocor, disalahgunakan, atau dimanfaatkan untuk kepentingan komersial.
Praktik pengawasan berbasis AI, seperti proctoring ujian daring dengan kamera dan analisis wajah, juga menuai kritik. Banyak siswa merasa diawasi secara berlebihan, yang berdampak pada kesehatan mental dan rasa aman.
Prinsip minimisasi data dan transparansi menjadi kunci. Institusi pendidikan perlu menjelaskan secara terbuka data apa yang dikumpulkan, untuk tujuan apa, dan berapa lama disimpan.
Peran Guru
AI sering dipromosikan sebagai asisten guru. Ia dapat membantu menyusun materi, menilai tugas, dan memberikan umpan balik cepat. Namun, ada kekhawatiran bahwa peran guru perlahan tereduksi menjadi operator sistem.
Ketika keputusan pedagogis terlalu bergantung pada rekomendasi algoritma, otonomi profesional guru terancam. Kepekaan dalam membaca kondisi kelas, memahami emosi siswa, dan menyesuaikan pendekatan pembelajaran tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh mesin.
Risiko lain adalah deskilling, yakni menurunnya keterampilan guru karena terlalu bergantung pada teknologi. Dalam jangka panjang, ini dapat melemahkan kualitas pendidikan.
Pendekatan yang seimbang menempatkan AI sebagai alat bantu, bukan pengganti. Pelatihan literasi AI bagi guru menjadi kebutuhan mendesak agar mereka mampu menggunakan teknologi secara kritis dan bertanggung jawab.
Baca Juga:
Tantangan Nyata Penggunaan AI Di Kelas
Homogenisasi Pembelajaran dan Hilangnya Kreativitas
AI cenderung menghasilkan jawaban yang “aman” dan generik. Jika digunakan secara masif, ada risiko homogenisasi dalam cara berpikir dan belajar siswa. Tugas-tugas menjadi seragam, argumen terdengar mirip, dan ruang untuk eksplorasi menyempit.
Pendidikan sejatinya mendorong keberagaman perspektif. Ketika siswa terlalu sering mengandalkan AI, kemampuan untuk berpikir orisinal dan kreatif dapat melemah.
Untuk menghindari hal ini, pendidik perlu merancang aktivitas yang menuntut refleksi personal, pengalaman nyata, dan diskusi terbuka yang tidak mudah digantikan oleh AI.
Etika, Hukum, dan Kekosongan Regulasi
Regulasi terkait AI di pendidikan masih tertinggal dibandingkan kecepatan adopsinya. Banyak institusi belum memiliki kebijakan jelas tentang batas penggunaan AI, kepemilikan karya, dan tanggung jawab atas kesalahan sistem.
Ketika terjadi sengketa, misalnya nilai yang dianggap tidak adil akibat sistem otomatis, mekanisme banding sering kali tidak tersedia. Ini menimbulkan pertanyaan besar tentang akuntabilitas.
Pemerintah, melalui kementerian pendidikan dan lembaga terkait, perlu menyusun kerangka kebijakan yang adaptif namun berorientasi pada perlindungan peserta didik.
Menuju Penggunaan AI yang Lebih Bertanggung Jawab
Risiko penggunaan AI di pendidikan bukan alasan untuk menolaknya secara total. Teknologi ini tetap memiliki potensi besar jika digunakan dengan prinsip kehati-hatian.
Kunci utamanya adalah keseimbangan. AI harus mendukung tujuan pendidikan, bukan menggesernya. Transparansi, literasi, dan keterlibatan manusia menjadi fondasi utama.
Dengan pendekatan yang tepat, AI dapat menjadi mitra belajar yang memperkaya, bukan ancaman yang melemahkan.
Kesimpulan
Penggunaan AI di pendidikan membawa peluang sekaligus risiko yang tidak bisa diabaikan. Integritas akademik, keadilan, privasi, dan peran guru menjadi isu sentral yang harus dijawab bersama.
Alih-alih terjebak pada euforia teknologi, dunia pendidikan perlu melangkah dengan kesadaran kritis. Diskusi terbuka, kebijakan yang jelas, dan evaluasi berkelanjutan menjadi kunci agar AI benar-benar memberi nilai tambah.
Sudah saatnya kita bertanya bukan hanya “apa yang bisa dilakukan AI”, tetapi “apa yang seharusnya tetap dilakukan manusia”.
Pertanyaan Umum (FAQ)
Apa risiko terbesar penggunaan AI di pendidikan?
Risiko terbesar meliputi hilangnya integritas akademik, bias algoritmik, pelanggaran privasi data, dan berkurangnya peran kritis guru.
Apakah AI sebaiknya dilarang di sekolah?
Tidak selalu. Yang dibutuhkan adalah regulasi, literasi, dan desain pembelajaran yang tepat agar AI digunakan secara bertanggung jawab.
Siapa yang bertanggung jawab atas kesalahan AI?
Tanggung jawab idealnya tetap berada pada institusi dan manusia yang mengelola sistem, bukan pada teknologi itu sendiri.

